YURISTGAMEINIGAMEID101

Cinta Goresan Tinta!!

Kembali potretmu kupandangi. Satu per satu. Jemariku masih sibuk mengalihkan lembar demi lembar potretmu yang setia membisu.

Senyuman lebarmu tercetak begitu indah. Membuatku juga melengkungkan bibirku ke atas. Dalam hati aku berterima kasih, kau baik-baik saja disana. Sehat dan bahagia. Seperti permintaanku pada malam yang sudah-sudah.

Setitik air kembali menetes. Walaupun rasanya ringan melihatmu bahagia, entah mengapa ada bagian hati yang juga tetap merasa sakit yang luar biasa.

Entah kau yang sedang ingin menjahili hatiku ataukah memang sudah tidak ada lagi rasa, aku pun tidak mengerti.

Kau meninggalkanku tanpa sepatah kata. Aku pikir, mungkin kau lupa, namun bukan itu. Aku yang memang tidak lagi sebagai salah satu prioritas. Bukan lagi tujuan. Itu, kan, arti kalimatmu saat kau menemuiku sore itu?

Sudah menjadi abu segala rasa yang sempat berada di dalam hati. Seribu kali aku menampikkan bahwa kita baik-baik saja, nyatanya tidak ada dari kita yang baik-baik saja. Terlebih perasaanku yang kau tinggalkan dengan begitu tega.

Masih aku kembali menggali setiap kalimatmu, setiap ucapan yang terlontar dari bibirmu, namun yang kutemui hanyalah omong kosong. Seluruhnya adalah pura-pura yang kau manfaatkan untuk mendapatkan hatiku.

Entah kau yang terlalu pintar membohongi ataukah aku yang terlalu bodoh mempercayaimu. Kenyataannya untuk kesekian kalinya aku merelakan hatiku kembali kau patahkan.

Apa sebegitu tidak berharganya aku di depan matamu? Seperti apa aku bagimu? Masihkah manusia ataukah sebuah boneka?

Apakah pernah sekali dalam hidupmu kau memikirkan bagaimana aku? Apakah aku terlalu baik padamu? Apakah aku keterlaluan sabar padamu? Sehingga seenaknya kau melakukan segala hal yang kau suka tanpa berpikir apakah setelah ini aku akan baik-baik saja atau tidak.

Aku sudah pernah menghancurkan perasaanku padamu sekali hingga akhirnya kau meminta kembali. Susah payah kuutuhkan kembali tiap kepingan hati itu untuk diberikan padamu lagi, namun sekali lagi tanpa rasa bersalah kau kembali menghancurkannya. Apa kau sudah mati rasa?

Bila yang kau pikirkan, aku akan selalu mengerti. Iya, kau benar. Aku akan selalu mengerti dirimu, tidak peduli seperti apapun itu. Namun bukan berarti aku tidak bisa menyerah.

Dan kini ku katakan dengan tegas kepadamu. Aku menyerah padamu dan seluruh kisah kita. Tak ada lagi penantian. Tiada lagi yang harus diperjuangkan. Tiada lagi yang harus kulanjutkan untuk bertahan. Aku sudah mencapai batasanku. Aku berhenti.

Selepas detik ini, setelah seluruh aksara ini sampai pada netramu yang pekat, aku bukanlah lagi milikmu yang utuh.

Kita hanyalah sebuah catatan lara yang usai.

Kita hanyalah sebuah kisah cinta dalam goresan tinta.

Aku pamit. Selamat tinggal.

 


 

About Author

Related Post